UNTAG Surabaya Kembali Dipercaya Lakukan Penelitian Bersama Technishe Universitat Berlin, Jerman
![]() |
| Sumber Foto: Dok.Humas Untag Sby |
Prof. Raoul mengajukan proposal penelitian tentang concious city untuk membangun perumahan berkelanjutan dan terjangkau untuk semua. Dia mengaku, hal ini dilatarbelakangi oleh program 1 juta rumah oleh Presiden Joko Widodo. “Penelitian yang dilakukan akan melibatkan peneliti dari multi disiplin ilmu. Karena salah satu luaran dari penelitian ini adalah kerjasama,” katanya. Dia mengusulkan konsep ‘Incubator’ dalam pembangunan rumah murah. Adapun rumah murah dalam akan dibangun menggunakan bambu yang menurutnya sesuai dengan kearifan lokal. Meskipun hasil penelitian ini dapat diimplementasikan di skala besar, yaitu kota. Menurut Prof. Raoul hasil penelitiannya cocok untuk kota Surabaya dengan figur walikota yang berpengaruh dan masyarakat dengan demokrasi.
Dalam pertemuan tersebut UNTAG Surabaya diwakili oleh Dosen Teknik Arsitektur-Dr. Ir. Hj. RA. Retno Hastijanti, MT. Dia menyatakan bahwa peran IT sangat diperlukan untuk di segala bidang, “Concious berarti sadar. Kita tidak sadar apa yang kita percepat ternyata tidak efektif. Sehingga dibutuhkan berbagai alat yang nantinya masuk ke dalam kategori IT untuk menyaring kebutuhan masyarakat sebetulnya apa dan kendala yang menghalangi masyarakat hingga tidak bisa membangun rumah murah,” terangnya. Senada dengan Prof. Raoul, Retno menyarankan penelitian lintas disiplin untuk bisa mengakselerasi pembangunan rumah yang terjangkau oleh masyarakat. Menurutnya kerangka Surabaya telah smart city, maka harus dikembangkan ke arah keinginan masyarakat.
Kepala Diskominfo Kota Surabaya-Agus Imam Sonhaji, ST., MMT. turut hadir. Pihaknya menyatakan siap untuk membantu penelitian ini sesuai dengan bidangnya yaitu IT. Pemilihan kampung dengan tingkat antusiasme masyarakat tinggi dianggap penting. Dia berharap ditemukan algoritma berfikir yang bisa dijadikan sebagai parameter untuk mengambil sikap. Masalahnya adalah tidak semua tanah di kota ini adalah milik pemerintah, karenanya kampung menjadi alternatif terbaik. Agus menyarankan agar mengganti bambu dengan material daur ulang, yang diproduksi dengan teknologi. “Jika material bisa dibuat oleh orang lokal, murah, dan aman maka penelitian ini akan sangat luar biasa. Lebih dari smart citu, tetapi concious city,” katanya. Ia juga menyanggupi untuk menyediakan lokasi penelitian dengan tingkat antusiasme masyarakat yang tinggi. (um/aep)
| www.untag-sby.ac.id |

Komentar
Posting Komentar